Selamat Jalan, Jenderal!

Kala itu, Kamis, saya seperti biasa menghabiskan masa-masa tahun terakhir kuliah sebagai pengangguran (jika definisi aktivis menurut orang-orang dipakai dalam konteks ini). Satu hari sebelumnya, saya menerima telepon dari orang tua saya yang tiba-tiba mengabarkan bahwa mereka harus kembali ke Jogja. 
Sore itu, Kamis, di landas Fisika UI, saya tiba-tiba kepikiran, mungkin akan menyenangkan jika saya bisa ikut pulang ke Jogja, tidak untuk waktu lama, cukup menghabiskan akhir pekan saya di sana. Saya kemudian membuka aplikasi reservasi tiket di telepon genggam saya, lihat-lihat harga kereta dan pesawat, lalu bergumam,
“Aku beli tiket aja apa ya? Hmm. Telepon Ibuk sama Pap ah, bilang kalau mau nyusul ke Jogja”.
Tepat saat jari saya ingin menekan tombol call, saat itu juga saya mendapat telepon dari Ibuk. Ibuk bicara, dengan nada suara yang sulit digambarkan. Doa saya dijawab Tuhan. Hanya berselang sekian menit, gumam saya dikabulkan Tuhan. Ibuk meminta saya pulang, tapi ini bukan yang seperti biasanya. Ibuk tidak meminta saya pulang ke Jakarta, melainkan ke Jogja. Saya tidak tahu bagaimana menggambarkannya. Eyang (dari Pap) saya disuruh pulang oleh Tuhan. Akhirnya hari itu saya memutuskan untuk tidak menghadiri kelas untuk kemudian esok paginya saya berangkat ke Bandara Halim.
Kata pulang memang tidak selamanya menyenangkan. Meskipun aku tahu dengan pasti, hampir setiap kata pulang mengandung kerinduan yang mendalam.
Setibanya di rumah, wajah pertama yang saya lihat adalah Donny, sepupu saya dari keluarga Pap. Saya tahu, dari sekian banyak orang yang menyatakan bahwa dirinya sedih di hari itu, tetap yang paling sedih adalah Donny. Orang kedua adalah Henny, adiknya Donny. Mereka berdua adalah sepupu saya dari keluarga Pap yang setiap hari menemani Eyang. Apalah saya ini yang pulang hanya jika diminta saja, pulang jika lebaran saja.
Hari itu banyak sekali orang yang datang ke rumah duka. Satu yang paling menarik perhatian saya ketika ingin mengantar Eyang pulang keharibaan Tuhan. Saya melihat sekelompok kakek beraut muka sedih berbaris rapi, menggunakan kopiah bersematkan simbol garuda berwarna emas. Saya tanya kepada Ibuk mereka siapa, kata Ibuk mereka teman-teman seperjuangan Eyang. Eyang lahir tahun 1920, jauh sebelum Indonesia merdeka, dan Indonesia bisa merdeka sedikit banyak juga ada sumbangsih keringat dan darah Eyang, jika saya boleh mengatakan demikian. Satu dari kelompok purnawirawan tersebut maju, membacakan sepatah-duapatah kata sebelum mengantarkan Eyang untuk terakhir kalinya. 
Saya ingat jaman dahulu, saya rasa saya punya masa kecil yang seru. Ketika anak-anak lain menghabiskan waktu mendengarkan kisah Kancil yang Cerdik, Tiga Ekor Babi, atau dongeng-dongeng raja ratu, masa kecil saya berbeda. Dahulu, setiap Eyang mampir untuk menengok kami yang ada di Jakarta, Eyang selalu cerita tentang masa-masa itu. Masa-masa berdarah ketika Indonesia belum merdeka, masa-masa mencekam di awal Indonesia merdeka, bahkan masa-masa pengkhianatan satu dua mulai bermunculan di negeri ini. Itu semua adalah kisah yang seru. Saya bangga karena tidak semua anak bisa mendapatkan kehormatan untuk mengetahui kisah itu semua.
Lamunan saya dihentikan ketika keranda Eyang berjalan menuju pusaranya. Barisan kakek purnawirawan itu memberikan penghormatan untuk yang terakhir kalinya. Saya pun memberikan penghormatan yang terakhir, ditambah doa semoga Eyang diampuni dosa-dosanya dan diterima segala amal ibadahnya.
Jika disetiap kepulangan terselip rindu di dalamnya, bukankah hal tersebut bagus karena ketika sang hamba pulang keharibaan Tuhan itu berarti Tuhan merindukannya. Karena Tuhan rindu, Tuhan meminta sang hamba untuk kembali. Tuhan ingin hambaNya pulang.
Tuhan rindu sang Jenderal ku pikir. Selamat memiliki Jenderalku kembali, Tuhan. Selamat jalan, Jenderal!
“..yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka berkata, sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali,” - Al Baqarah: 156.

Comments