Selamat Jalan, Jenderal!
Kala itu, Kamis, saya seperti biasa menghabiskan masa-masa tahun terakhir kuliah sebagai pengangguran (jika definisi aktivis menurut orang-orang dipakai dalam konteks ini). Satu hari sebelumnya, saya menerima telepon dari orang tua saya yang tiba-tiba mengabarkan bahwa mereka harus kembali ke Jogja. Sore itu, Kamis, di landas Fisika UI, saya tiba-tiba kepikiran, mungkin akan menyenangkan jika saya bisa ikut pulang ke Jogja, tidak untuk waktu lama, cukup menghabiskan akhir pekan saya di sana. Saya kemudian membuka aplikasi reservasi tiket di telepon genggam saya, lihat-lihat harga kereta dan pesawat, lalu bergumam, “Aku beli tiket aja apa ya? Hmm. Telepon Ibuk sama Pap ah, bilang kalau mau nyusul ke Jogja”. Tepat saat jari saya ingin menekan tombol call, saat itu juga saya mendapat telepon dari Ibuk. Ibuk bicara, dengan nada suara yang sulit digambarkan. Doa saya dijawab Tuhan. Hanya berselang sekian menit, gumam saya dikabulkan Tuhan. Ibuk meminta saya pulang, t...